Senin, 30 November 2009

CPO sebagai bahan baku FAME


Bahan baku FAME sementara ini berupa crude palm oil (CPO). Bagaimanapun pemakaian CPO untuk FAME pasti bersaing karena CPO digunakan untuk pangan. Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian yang menyatakan pengembangan biodisel dari minyak sawit dapat mengganggu pasokan minyak mentah (CPO) untuk industri minyak goreng domestik dan ekspor CPO.

Karena hal tersebut perlu dicari
bahan baku FAME yang murah dan pemakaiannya tidak bersaing dengan kebutuhan pokok manusia. Sambil menunggu jarak pagar yang diperkirakan harga minyaknya lebih murah dari pada CPO, terdapat sumber bahan baku FAME yang berasal dari minyak sawit yaituCPO off grade (FFA 5-20%), Limbah cair pabrik kelapa sawit, Palm fetty acid distillate, minyak goreng bekas, Stearin dan crude stearin.










CPO off grade



CPO off grade adalah CPO yang berkadar kemasaman (bilangan asam) lebih besar dari 5%. mutu ini disyaratkan para pembeli untuk mendapatkan efisiensi yang tinggi pada pengolahan labih lanjut dari CPO, antara lain untuk diolah menjadi minyak goreng.



CPO off grade dapat diperoleh darim unit pengolah sederhana tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang ntara lain ada di banten dan lampung. Di daerah ini kekurangan pabrik kelapa sawit (PKS) sehingga masyarakat mengolah TBS secara sederhana menjadi CPO dengan kadar FFA lebih dari 20%. Harga CPO yang diolah dengan sistem ini lebih kurang Rp2.100 per liter (60% harga CPO standar).

Beberapa daerah yang mengalami masalah ini (TBS berlimpah, tetapi kekurangan PKS) di antaranya aceh, bengkulu, kalimantan dan papua. Dari pada TBS membusuk di daerah-daerah tersebut, ada baiknya diolah secara sederhana menjadi CPO off grade, dan selanjutnya diolah menjadi biodisel atau FAME.


CPO off grade juga bisa terjadi apabila TBS terlambat dipanen, terlambat diangkut, atau terlambat diolah (lazim disebut buah restan). Bisa juga dihasilkan dari minyak sawit yang ditahan terlalu lama di tangki penyimpanan.